Informasi Ecology

Lautan yang mengasam: Terumbu karang butuh perlindungan jauh lebih besar lagi.

Saat ini manusia terus meng-asam-kan dan menghangatkan lautan dunia. Kita perlu berusaha lebih giat lagi untuk menyelamatkan Terumbu Karang.
Terumbu dengan koral yang terjaga (atas)
dan koral dalam status kelulushidupan rendah, diselimuti alga (bawah).
(Foto: Siham Afatta / Karimunjawa, Indonesia)
Studi terkini dari tim ilmuwan internasional mengemukakan bahwa pengasaman laut dan pemanasan global akan berlangsung bersamaan dengan dampak lokal manusia seperti penangkapan ikan berlebih dan buangan nutrien dari daratan – terus semakin melemahkan terumbu karang dunia disaat mereka sedang mencoba bertahan saat ini.
Permodelan ekologis yang dilakukan oleh tim yang digagas Dr Ken Anthony dari ARC Centre of Excellence for Coral Reed Studies dan Global Change Institute di The University of Queensland menemukan bahwa: terumbu yang sudah mengalami penangkapan berlebih serta terpapar lepasan nutrien dari erosi di daratan akan semakin rentan akan peningkatan CO2 di atmosfir yang diakibatkan pembakaran bahan bakar fosil.
Studi mereka adalah yang pertama kali menggabungkan proses skala global seperti pemanasan iklim dan pengasaman laut, dengan faktor lokal seperti penangkapan berlebih dan buangan aliran dari daratan (runoff); dalam memprediksi kombinasi dampak pada terumbu karang.
‘Resep mudah untuk menghapus terumbu karang dari Bumi’
(Foto: Paul Marshall, Ken Anthony)
“Saat kadar CO2 menanjak hingga 450-500 bagian persejuta (ppm) – sebagaimana diprediksi terjadi di 2050 – sejauh apa usaha kita bisa mengelola dampak lokal di terumbu (seperti perikanan dan polusi dari daratan) menjadi penentu untama mampu bertahannya terumbu karang, jika tidak, alga bisa mengambil alih tempat tumbuh koral di terumbu” – dikutip dari artikel ilmiah mereka.
Kondisi laut yang menghangat menyebabkan kematian koral masal yang berkala karena pemutihan, sedangkan pengasaman air laut – akibat CO2 yang larut dari atmosfir – melemahkan koral dengan menganggu kemampuan mereka membangun struktur koral, membuat koral lebih rentan akan dampak badai.
Jika koral juga dipengaruhi oleh buangan nutrisi (polusi) dari daratan – sehingga ‘menyuburkan’ alga dan diperparah dengan penangkapan berlebih ikan kakatua dan biota lainya berperan menjaga terumbu bersih dari alga sehingga terumbu bisa pulih kembali setelah sebuah gangguan) – maka, dalam situasi ini, terumbu bisa sepenuhnya dilingkupi alga, menggantikan koral yang menetap diatas terumbu.
Permodelan yang dilakukan tim peneliti, meskipun simulasi dilakukan tidak dalam skenario ekstrim, sudah mampu menghasilkan prediksi kritis bagi terumbu di negara berkembang seperti Indonesia – dimana terumbu karang berdampingan selalu dengan tingkat gangguan tinggi dari aktifitas manusia.
Sederhananya, model mereka menguak bahwa semakin banyak CO2 dilepaskan manusia, semakin sulit keadaan bagi koral untuk bertahan. Koral akan membutuhkan segala macam pertolongan yang mereka bisa dapat dari segala usaha pengelolaan yang manusia bisa lakukan untuk mencegah mereka kalah tumbuh dan dilingkupi rumput laut.
Terumbu karang di negara berkembang, dimana terumbu dunia paling banyak berada, seperti Indonesia; saat ini dihadapkan selalu dengan penangkapan berlebih dan nutrifikasi. Mereka saat ini sangat rentan, dimana kapasitas para pengelola terumbu dan pemerintah menentukan nasib mereka di masa depan.
Dalam sisi global, jika kesepakatan manusia gagal dalam menstabilkan dan mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfir Bumi, maka jenis koral pembangun struktur dasar terumbu seperti Acropora, bisa hilang dalam jumlah besar – meskipun usaha pengelolaan di skala lokal dilakukan sebaik apapun.
Spesifiknya, usaha pengelolaan sekala lokal seperti menjaga populasi ikan herbivori serta pencegahan buangan erosi daratan berlebih, zat pupuk dan limbah dari daratan – menjadi kunci peran dalam menjaga ketahanan koral dalam proses penstabilan CO2 di masa depan.
Di Indonesia, tindakan tidak ramah lingkungan pada terumbu karang terkait dengan instabilitas perekonomian masyarakat pesisir. ±90% nelayan Indonesia adalah nelayan skala-kecil. Namun, Lebih 60% keuntungan tangkap ikan di Indonesia mengalir ke 5% nelayan asing.
Komitmen pemerintah Indonesia dalam menyelamatkan masyarakat nelayan dan pesisir dari kemiskinan, menentukan selamatnya terumbu karang dan kelestarian perikanan Indonesia dalam dekade kedepan. Kesadartahuan dan proaktif masyarakat dalam menjaga kelestarian laut juga akan kritis dalam menentukan nasib pesisir dan laut.

Masa kelam terumbu karang: Garis besar solusi untuk terumbu karang dunia yang terus menghilang.

Terumbu karang dunia sedang bermasalah. Sebab berbagai faktor seperti pengasaman laut, naiknya temperatur akubat perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih dan polusi – tutupan karang dunia telah munurun hingga sekitar 125.000 kilometer persegi dalam kurun waktu 50 tahun kebelakang. Banyak biolog laut, seperti Charlie Veron, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science, memprediksi bahwa terumbu karang akan hilang dalam satu abad kedepan. Tahun 2010 ini-pun, pemutihan karang masal, dimana karang kehilangan protozoa simbiotik-nya dan semakin rentan akan penyakit dan kematian – terjadi di sepanjang pesisir Indonesia, Filipina, dan beebrapa pulau Karibia. Namun, sebuah artikel jurnal di Trends in Ecology and Evolution mencoba mengangkat srategi untuk mengatasi keterpurukan terumbu karang, termasuk beberapa kisah sukses, untuk menyelamatkan mereka.
Atas: Tingginya dan seringnya gangguan lokal dan global pada terumbu memicu lebih seringnya pemutihan karang serta penurunan terumbu karang yang serius di penjuru dunia. Bawah: Terumbu karang yang sehat, seperti di Great Barrier Reef, juga menampung keanekaragaman hayati yang tinggi.
Foto: Atas: © Bruce Carlson; Bawah: © Great Barrier Reef Marine Park Authority
“Saat ini kita SUDAH punya pemahaman ilmiah yang cukup tentang penyebab penurunan terumbu – yang kita perlukan saat ini adalah gambaran yang lebih jelas untuk menolong mereka berbalik arah menuju keadaan optimal mereka di masa lalu, melalui pemulihan,” ujar penulis utama, Terry Huges dari Australian Research Council Centre of Excellence for Coral Reef Studies di James Cook University.
Berbagai riset dunia telah menunjukkan bahwa terumbu karang memiliki daya lenting (resiliensi) dan mampu pulih dari fenomena gangguan skala besar.
Sebagai contoh, dalam artikel dijelaskan bahwa pada situs terumbu skalal lokal di pulau Heron di Great barrier Reef hampir setiap dekade secara rutin kehilangan hampir seluruh karang-nya akibat badai. Namun tetap memiliki kemampuan pemulihan yang cukup cepat dan kecenderungan struktur terumbu berubah dan berbeda jauh dari keadaan terumbu di masa lalu sangat kecil.
Namun, dampak manusia memiliki pengaruh berbeda dibanding dampak alam, seperti badai. Terumbu karang saat in bukan lagi menghadapi gangguan atau bencana alami yang datang, mereda, dan lewat. Namun, pengaruh manusia yang ditulis sebagai “dampak manusia yang kronis”, merupakan gangguan yang konstan dan bertahan dalam kurun waktu lama. Dampak manusia saat ini membuat kemampuan alami karang untuk pulih tidak bisa membandingi ‘dentuman’ kematian karang yang terus terpicu akibat gangguan manusia.
Mekanisme pemutihan karang. Keadaan normal (kiri) dimana alga ber-sel satu (zooxanthellae) berada di lapisan jaringan karang. Keadaan terganggu (tengah): zooxanthellae lepas dari lapisan jaringan karang. Keadaan sekarat: Karang menuju kematian sebab jaringan karang tidak tumbuh tanpa adanya zooxanthellae, dan alga halus (alga filamen) bisa tumbuh di permukaan kerangka karang yang mati. Proses ini bisa terjadi pada ribuan koloni, menyebabkan fenomena pemutihan karang masal.
“Dalam satu abad kebelakan, banyak terumbu-dekat-pantai di bagian dalam Great Barrier Reef telah tertutupi sedimen dan makroalga, dan menunjukkan sedikit kemampuan atau indikasi akan pemulihan menuju kondisi semula yang ‘kaya karang”, tulis para peneliti.

Kiri: Terumbu yang memiliki resiliensi / daya lenting tinggi dengan struktur yang kaya akan karang hidup keras. Kanan: Terumbu yang sudah mengalami gangguan dimana struktur sudah berubah dimana komposisi makroalga melampaui jumlah karang keras. Membantu terumbu berbalik dari kanan ke keadaan di kiri adalah salah satu tugas kita dalam mengelola terumbu saat ini.
Foto: Kiri: © E. Turak; Kanan: © A. Hoey
Terry Hughes berkata, “kunci untuk menyelamatkan terumbu terletak di dalam pemahaman kita mengapa beberapa terumbu mengalami degenerasi menjadi hamparan rumput laut dan tidak bisa pulih lagi – kejadian yang disebut “perubahan fase” -; sementara di terumbu lain karang-nya mampu puli kembali dengan sukses – sebuah kemampuan yang disebut daya lenting atau resiliensi.
Para peneliti juga mengangkat beberapa tempat dimana terumbu karang yang berbalik pulih akibat adanya usaha pencegahan dampak manusia terkait penurunan karang di masa lalu. Sebagai contohnya, mengakhiri buangan limbah di Teluk Kanehoe di Hawaii telah memungkinkan karang untuk pulih; kembalinya populasi bulu babi di beberapa bagian kepulauan Karibia telah memungkinkan karang untuk bangkit ‘melawan’ rumput laut; dan di Filipina regulasi yang lebih efektif untuk penangkapan ikan berlebih telah memungkinkan ikan kakatua untuk pulih kembali – sejenis ikan terumbu yang membantu karang pulih dengan memakan rumput laut (makroalga) kompetitor karang.

Ikan terumbu herbivora: (Arah jarum jam dari pojok atas-kiri) Ikan Kakatua, Surgeonfish, Rudderfish, Angelfish, Damselfish dan, Rabbitfish. Ikan-ikan ini berperan sebagai ‘tukang rumput’ di terumbu, memakan alga yang tumbuh diantara karang sehingga jumlah alga terkendali dan karang dapat ruang dan cahaya untuk tumbuh. Jika ikan ini dihidangkan  di suatu kawasandan disantap, berarti pertanda ikan perdator ekonomis sudah mulai habis ditangkap, dan ikan herbivora pun jadi incaran, kemampuan pemulihan terumbu pun terancam dan semakin rentan akan gangguan lainya. PERHATIKAN JENIS IKAN YANG ANDA SANTAP, JANGAN MAKAN IKAN-IKAN TERUMBU INI.
Foto: © Garry allen.
“Krisis terumbu karang dunia umumnya terkait juga dengan krisis kepemerintahan, sebab kita sudah tau apa yang perlu dilakukan, namun aksi atau tindakan (untuk mengurangi polusi, menekan emisi gas rumah kaca, mencegah penangkapan berlebih dan merusak) tidak dilakukan,” ujar Terry Hughes.
Studi tersebut juga menyarankan agar berbagai pemerintahan untuk melibatkan para peneliti yang memahami studi daya lenting terumbu karang dalam pengembangan kebijakan terkait penyelamatan terumbu karang. Sebagai tambahan, pemerintah sebaiknya fokus dalam pendidikan masyarakat lokal, perubahan mekanisme tata guna lahan dalam mencegah lepasan polusi, memperkuat hukum untuk melindungi terumbu karang, memperbaiki pengaturan penangkapan berlebih, dan bekerja dengan institusi internasional, seperti Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dalam penyediaan perlindungan yang lebih baik bagi karang yang terancam punah.
Namun tentunya, satu bongkahan batu besar lainnya adalah perubahan iklim. Dalam masa pengasaman laut saat ini, sebab meingkatnya emeisi karbon serta menghangatnya temperatur laut – akan membawa keterpurukan terumbu karang meskipun tindakan yang mendukung daya lenting karang dilakukan.
Dalam perspektif global para peneliti mengatakan juga bahwa pemerintah negara dunia juga harus “menghadapi perubahan iklim sebagai isu utama yang paling penting bagi pengelolaan dan konservasi terumbu karang dengan menekan tajam emisi gas rumah kaca.”
Terry Hughes menambahkan, “tanpa tindakan yang segera, pemanasan global dan pengasaman laut dalam waktu kedepan yang belum terlihat akan menjadi jaminan kuat gagalnya terumbu karang. Meskipun memungkinkan sekali untuk memicu pemulihan terumbu karang seusai rentetan pemutihan karang melalui tindakan lokal seperti menjaga dan meningkatkan kualitas air dan melindungi herbivora terumbu, intervensi semacam ini tidak akan menjadikan terumbu ‘tahan-perubahan-iklim’.”
Namun, pesan di akhir artikel tidak memberikan harapan yang kelam dan terpuruk bagi karang, melainkan: “the world’s coral reefs can still be saved… if we try harder”.
Terumbu karang masih bisa diselamatkan… jika kita berusaha lebih kuat lagi.

Jangan berisik di terumbu: Ikan menjauhi habitat baik mereka sebab polusi suara di laut, bahkan hingga kematian.

Meningkatnya polusi suara di lautan membuat ikan menjauh dari habitat yang sesuai bagi mereka, bahkan mungkin hingga kematian, menurut penelitian terbaru oleh tim Britania Raya bekerja di Great Barrier Reef.
Staghorn Damselfish
(Foto: aquarium.aquarioepeixes.com.br)
Setelah beberapa minggu berkembang di laut, bayi ikan tropis bergantung pada suara alam untuk mencari terumbu karang dimana mereka bisa bertahan dan berkembang. Namun, tim peneliti menemukan bahwa pengaruh singkat suara asrifisial (red: buatan) membuat ikan tertarik dengan suara yang tidak sesuai.
Pada penelitian sebelumnya, Dr Steve Simpson, Senior Researcher dari School of Biological Science – the University of Bristol, menemukan bahwa bayi ikan terumbu memanfaatkan bunyi-bunyian dari ikan lain, udang dan bulu babi sebagai patokan mencari terumbu karang. Dengan polusi suara dari kapal laut, pembangkit listrik tenaga angin dan kegiatan eksplorasi minyak yang meningkat, Steve kuatir bahwa perilaku alami ikan ini sedang terancam.
Ketika baru beberapa minggu umurnya, bayi ikan terumbu secara alami ditantang untuk mencari dan memilih habitat yang sesuai. Suara-suara terumbu memberikan informasi vital bagi mereka, namun mereka dapat belajar, mengingat dan tertarik dengan bunyi-bunyian yang salah, dan Kita bisa saja membawa mereka ke arah yang salah; ujar Steve.
Menggunakan perangkap cahaya malam bawah air, Steve dan timnya mengoleksi bayi Damselfish dari kawasan terumbu karang. Ikan-ikan tersebut dikumpulkan dalam tangki dengan speaker bawah air yang memainkan suara alami terumbu atau campuran nada-nada buatan. Malam berikutnya ikan dipindah dalam ruang pilah (semacam tabung panjang dengan beragam percabangan menuju akhir tabung dan ikan bisa bergerak dengan bebas memilih jalur akhir yang mereka kehendaki) dengan suara alami atau buatan di lantunkan. Semua ikan menyukai jalur yang menuju suara terumbu, namun hanya ikan yang telah dipengaruhi campuran nada buatan memilih jalur renang yang berbeda, lainnya cenderung menjauhi suara buatan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan dapat belajar suara-suara baru dan mengingatnya beberapa jam kemudian, menghapus mitos memori-tiga-detik ikan, ujar Steve.
Salah satu kolaborator Steve, Dr Mark Meekan, menambahkan: Ini juga menunjukkan bahwa bayi ikan dapat membedakan suara, dan berdasarkan pengalaman mereka, menjadi tertarik pada suara yang telah mengganggu prilaku mereka pada saat malam terpenting dalam hidup mereka.
Dalam lingkungan yang berisik, perombakan prilaku alami dapat berdampak buruk pada suksenya populasi dan regenerasi stok ikan di masa mendatang.
Steve menambahkan bahwa: Suara yang dihasilkan kegiatan manusia telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun kebelakang, sebab perahu mesin kecil, pelayaran, pengeboran, tongkang dan konstruksi laut, dan pengujian seismik yang ada saat ini bisa menyamarkan suara ikan dan petikan capit udang. Jika ikan tidak sengaja mengikuti suara yang salah, pemberhentian akhir mereka bisa jadi dekat dengan daerah konstruksi atau mengikuti arah kapal ke laut lepas.
Lalu, bagaimana menurutmu tentang berita ini untuk Laut dan Kita di Indonesia?

Referensi:
University of Bristol (2010, August 3). Human noise pollution in ocean can lead fish away from good habitats and off to their death. ScienceDaily. Retrieved August 5, 2010, from http://www.sciencedaily.com /releases/2010/08/100803212015.htm

Perubahan Iklim, Laut, Terumbu Karang, Copenhagen, Indonesia (1)

Hamparan es kutub utara dan Greenland – sekarang dan nanti.

Di bulan Desember 2009 ini, sekitar 200 perwakilan Negara di dunia akan berkumpul di Copenhagen, Denmark, untuk menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PPB. Disanalah komitmen terbesar negara-negara dunia dalam mengurangi pengotoran atmosfir Kita akan terlihat.
Terus kenapa ?.
Terus kenapa ? adalah pertanyaan yang paling wajar untuk Kita lontarkan di benak Kita sebagai orang Indonesia. Jika begitu, bersyukurlah, berarti kita masih penasaran dengan diri Kita akan sejauh mana Kita bisa melindungi Laut. Lalu, mengapa tidak sekalian saja menyelamatkan Laut Kita?.
Jika ingin menyelamatkan lingkungan Laut, misalnya seperti ekosistem terumbu karang, berarti Kita harus berkomitmen menyelamatkan diri Kita dari Kita sendiri. Lain kata, menyelamatkan manusia esok dari manusia kini.
Mengapa esok? – karena yang merasakan sejauh mana ‘selamat’-nya Laut Kita adalah anak cucu kita, bukan Kita saat ini.
Mengapa kini? – Karena baik Laut, atmosfir dan daratan, mereka memerlukan perlindungan dari ‘sel kanker’ yang saat ini terus berkembang menggerogoti, yaitu Kita sendiri, manusia.
Menjelajah laut paling dalam, terbang ke bulan, penggandaan jaringan tubuh manusia dan hewan, membuat robot seukuran sel darah, bom nuklir – semua bisa dilakukan Kita. Hingga saat kini, kita bisa merubah iklim bumi kita.
Hei, mana kelanjutan ‘Copenhagen’-nya?
Oh, maaf, kembali fokus. Jadi, Desember ini, negara-negara peserta konferensi di Copenhagen akan mencoba menyepakati protokol baru dalam mengatasi perubahan iklim* dunia dan jumlah emisi gas rumah kaca yang akan mereka dikurangi.
Dalam konteks humor,  Copenhagen bisa dibilang sebuah komitmen terbesar manusia  di negara berkembang saat ini untuk mengendalikan intentistas dan frekuensi ‘kentut’ mereka di masa depan, agar tidak meracuni ekosistem sekitar mereka.
Foto: Coral Reef Targeted Research
Terhitung 11 November 2009 ini, jumlah emisi karbon dioksida di atmosfir Kita sekitar 385 ppm**. Angka ‘bencana’ bagi manusia dan ekosistem bumi adalah 450 ppm, namun bagi terumbu karang, ternyata ini masih terlalu tinggi.Analisa terkini Charlie Veron dan rekan (2009) menyatakan bahwa, dibutuhkan kadar emisi CO2 atmosfir dibawah 360 ppm untuk menjamin kelangsungan ekologi terumbu karang kedepannya. Untuk mengimbangi pengasaman laut*** yang saat ini sudah berjalan dibawah 385 ppm dan telah berdampak pada terumbu karang dan ekosistem laut lainnya.Di Copenhagen, para ilmuwan bahari akan ‘mendesak’ para pemimpin dunia untuk men-target penurunan emisi hingga 320 ppm untuk menghindari pengasaman laut berkelanjutan. Mari kita pantau terus media.

Berdasarkan Veron dkk., jika target ini tidak tercapai, dampak negatif seperti: pemutihan karang masal akibat meningkatnya suhu muka laut, terhambatnya pertumbuhan karang akibat air laut yang asam – akan berlanjut. Dalam nuansa 387 ppm saat ini, jika terus bertahan hingga 10 tahun kedepan saja, maka banyak terumbu dunia akan rusak, dan tak terpulihkan.

Sebagai bonus. Dengan laju peningkatan emisi saat ini, di kisaran tahun 2030-2040, jika manusia tidak bertindak, CO2 di atmosfir bisa mencapai 450 ppm. Dengan angka ini, frekuensi pemutihan karang masal terjadi setiap tahunya, dan serentak dengan kerusakan pengasaman laut dan serta dari gejala alam lainnya (badai pesisir yang semakin sering).

Di saat itu, ikan tidak banyak bertahan karena kehilangan rumah. Komoditas ikan semakin langka dan berharga. Masyarakat yang bergantung pada sumberdaya laut kehidupannya semakin terancam. Kompetisi sumberdaya laut semakin pesat, dan konflik / destabilisasi sosial akan lebih meningkat di kalangan masyarakat yang berketergantungan tinggi dengan sumber daya terumbu dan laut. Dan berita buruk seterusnya…

Hei, stop. Ada apa dengan ‘berlagak Tuhan’ disini? Adakah mampu kita ‘meramal’ masa depan terumbu karang dan teman-temannya?

Tak ada yang bermain Tuhan. Dan untuk menjawab ini akan kontradiktif dengan idealisme ilmiah-awam blog ini. Cukup balik lagi ke hati nurani Kita saat ini yang sedang bertanggung jawab akan kelestarian kebun besar laut dengan nama Coral Triangle / Segitiga Karang ini, dan kepedulian kita dengan nasib generasi penerus kita.

Kita sekarang sedang naik mobil, kecepatan 80 km/jam. Tiba-tiba di depan kita terlihat tikungan tajam. Seketika itu juga benak ita merespon ‘menjelang tikungan Kita injak pedal rem perlahan dan konsentrasi penuh untuk  berbelok dengan aman’.

‘Digdaya’-nya kemampuan ilmiah manusia saat ini dalam memprediksi iklim global tu SAMA responsifnya dengan tanggapan benak kita di uraian atas. Sehingga dengan seketika kita bisa masih mengambil keputusan untuk menghindari malapetaka. Saat ini kita sedang memasuki tikungan, nasib kita tergantung sejauh mana kemampuanKita menginjak rem dan memutar strir.

Ancaman predasi Drupella bagi Karang: Pentingkah?

Baru-baru ini (Mei – Juni 2009) GoBlue meliput fenomena pemutihan karang masal di kawasan Pemuteran, Bali. Tidak hanya itu, ternyata siput koralivora (pemakan karang) jenis Drupella sp. juga sedang mewabah, andil dalam menggerogoti jaringan karang hidup di kawasan tersebut, menambah karang yang memutih. Lantas, apa lagi tentang siput Drupella ini?. Untuk menambah wawasan kita, mari kita tengok ulasan dibawah:

Bagaimanakah wujud Drupella?


Cangkang Drupella sp. setelah dibersihkan.
Drupella di meggerogoti karang masif.
Warna merah muda akibat cangkang mereka dilingkupi alga koralin.
(Foto: WWF Hongkong)

Cabang karang Acropora saat digerogoti Drupella

sehingga memutihkan karang akibat dimangsanya jaringan hidup karang.

(Foto: Andrew Baird, GBRMPA)

Jaringan polip karang masif sedang digerogoti Drupella.

Berbagai ukuran Drupella.
(Foto: Andrew Baird, GBRMPA)

Sejak kapan Kita tahu ancaman Drupella bagi terumbu karang?

Kasus kerusakan karang skala besar akibat Drupella pertama kali tercatat di tahun 1976 di pulau Miyake-Jima, Jepang bagian selatan (Moyer et al 1982). Kasus merebaknya Drupella (outbreak) juga pernah menyebabkan kerusakan karang yang luas di Filipina (Moyer et al 1982), Kepulauan Marshall (Boucher 1986), juga di barat Australia (Ayling & Ayling, 1987; Forde 1992; Osborne, 1992; Black & Johnson, 1994).

Bagaimanakah cara Drupella memangsa karang?

Ciri kerusakan biologis karang akibat prilaku koralivora Drupella (baik intensitas dan luasnya) cenderung serupa dengan dampak yang disebabkan Acanthaster planci (Bulu Seribu) (Moyer et al., 1982; Ayling & Ayling, 1987).

Drupella memilih mangsanya (umumnya koloni karang) karena berbagai alasan – yang cukup kompleks – diantaranya: bentuk pertumbuhan koloni karang, kemudahan mereka untuk mengambil jaringan karang yang hidup, produksi lendir dari karang, nilai nutrisi jaringan karang juga kemampuan pertahanan nematosit (sel penyengat) dari karang itu sendiri (Morton et al., 2002).

Jenis karang yang disukai Drupella umumnya karang bercabang dan foliosa, berpolip kecil dan menjulur tinggi (Moyer et al., 1982; Turner, 1994a). Namun, ini tidak menutup kemungkinan mereka untuk memangsa jaring karang masif, seperti yang terjadi di kepualuan Hongkong; meskipun karang bercabang hampir habis dan kualitas air menurun akibat perikanan merusak dan polusi (Morton dan Blackmore 2008).

Struktur mulut dan gigi (radula) siput laut Drupella mampu menembus pertahanan sel penyengat (nematosit) dari karang. Saat memangsa jaringan karang, otot mulut mereka mampu menjulur untuk mengambil jaringan polip hidup karang. Tubuh mereka juga terlapisi semacam lendir sehingga sel penyengat karang tidak bisa menembus ke jaringan halus Drupella (Robertson, 1970). Dimulut mereka juga terdapat gigi halus berbuku-buku (radula) yang diduga juga mendukung ketahanan mereka melawan sel penyengat karang (Fujioka, 1982).

Apakah diugaan ilmuwan saat ini tentang pemicu merebaknya Drupella?

Di tahun 2008, Morton dan Blackmore malakukan penelitian pada dua jenis gastropoda koralivora (Drupella rugosa dan Cronia margariticola). Analisa statistik mereka di 5 pulau di perairan Hongkong menunjukkan bahwa pola makan dan kelimpahan kedua Gastropoda ini terkait dengan temperatur air laut. Menjelang musim panas kelimpahan dan pola makan mereka meningkat, lebih tinggi dibandingkan saat musim dingin.

Drupella rugosa memiliki siklus hidup panjang dan relatif lamban pertumbuhannya (Black & Johnson, 1994; Turner, 1994a). Hal ini terkait dengan kelimpahan mereka yang musiman. Dalam siklus tahunan, ketika memasuki musim panas di pesisir bagian dalam, Drupella teramati bergerak keluar pasir menuju tempat karang berada. Diduga spesies ini tumbuh dan berkembang di dalam pasir saat musim dingin (saat temperatur air laut rendah) (Morton dan Blackmore 2008).

Gastropoda predator semacam Drupella mampu mendeteksi makanan mereka melalui mekanisme kemoresepsi (chemoreception) (Kohn, 1961). Dengan ini mereka bisa mengetahui keberadaan dan arah mangsa yang potensial bagi mereka (seperti karang) dari zat kimia yang dilepas dari calon mangsa (Kohn, 1961, 1983). Karang genus Acropora dan Montipora menjadi favorit Drupella mungkin terkait dengan zat aktif terkanding dalam karang tersebut yang membagkitkan selera Drupella.

Perlukah Kita kuatir akan hal ini?

Hingga saat ini belum ada solusi yang paling efektif dalam mengendalikan populasi gastropoda koralivora, seperti Drupella sp. salah satunya. Bahkan di Great Barrier Reef, Australia, dimana konservasi dan pengelolaan terumbu karang terluas dan terbaik di dunia saat ini; belum memiliki solusi tepat dalam mengatasi kemunculan Drupella.

Perlukah Kita kuatir akan hal ini? Jika dibandingkan dengan pemutihan karang masal (akibat pemanasan global), serta kerusakan fisik karang (terus berjalan akibat pola hidup dan budaya Kita); matinya karang akibat Drupella berdampak relatif kecil. Drupella menggerogoti karang, itu sudah tugas alami mereka. Bulu seribu menggerogoti karang, itu sudah tugas alami mereka. Semua komponen biota di ekosistem terumbu karang berjalan sesuai tugasnya masing-masing.

Satu lagi yang perlu dicatat ialah Kita, manusia, sejalan dengan pola hidup dan budaya yang kita banggakan saat ini, serentak terus memberikan kontribusi dalam perubahan iklim. Kita memiliki kekuatan besar dalam meng-kacau-kan iklim bumi. Laut semakin memanas, bumi menerima radiasi matahari semakin tinggi – menyiksa seluruh organisme di udara, darat, dan laut. Biota ekosistem yang sedang menjalankan tugasnya masing-masing terganggu. Ada yang tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan lingkungan (temperatur laut lebih tinggi dari normal – karang memutih), ada juga yang terpicu untuk melakukan tugasnya secara ekstrim (temperatur laut lebih tinggi dari normal- merebaknya koralivora: Drupella, Bulu Seribu).

Jika Kita ingin memutus siklus ekosistem laut resepnya sangat mudah:

  1. Terus mengkonsumsi makanan laut secara membabi-buta, tanpa pertimbangan akal sehat sehingga ikan cepat habis tanpa adanya kesempatan regenerasi.
  2. Jangan berhenti terlibat dalam perusakan kawasan terumbu karang baik secara fisik, kimiawi, langsung, maupun tidak langsung dan utamakan selalu untuk kepentingan kenyamanan diri, perut, harta dan kekuasaan serta selalu ber-orientasi jangka pendek, tidak memperdlikan nasib anak cucu.
  3. Jangan bosan-bosan menghamburkan listrik, bensin dan terus mengeemisi gas rumah kaca; karena semakin cepat iklim dunia terganggu dan memanas, semakin kacau pula tiap spesies dalam menjalankan tugasnya, semakin tidak stabil ekosistem terumbu karang.
  4. Jangan mau berkorban untuk lingkungan dan anak cucu ketika kenyamanan, harta, kekuasaan serta ketidak-pernah-puasan masih dalam prioritas kultur dan keseharian Kita.

Lalu, disini apa peranan kita sebagai ‘Indonesia’ ? – akan berlanjut di bagian 2.

* Tentang ‘Perubahan klim/Pemanasan Global’, silahkan klik sini: Wikipedia
** Ppm = parts per million / bagian per sejuta, adalah satuan untuk kandungan gas tertentu di udara. Berdasarkan Observatorium NOOA / Mauna Loa. Data publikasi 11 november 2009
*** Pengasaman laut, lihat posting terdahulu Laut Kita dengan kategori ‘Pengasaman Laut / Ocean Acidification’

Referensi

– Carpenter, K., M. Abrar, G. Aeby, R. Aronson, S. Banks, A. Bruckner, A. Chiriboga, J. Cortes, J. Delbeek, and L. DeVantier. 2008. One-third of reef-building corals face elevated extinction risk from climate change and local impacts. Science 321:560.
– Hoegh-Guldberg, O., P. Mumby, A. Hooten, R. Steneck, P. Greenfield, E. Gomez, C. Harvell, P. Sale, A. Edwards, K. Caldeira, N. Knowlton, C. Eakin, R. Iglesias-Prieto, N. Muthiga, R. Bradbury, A. Dubi, and M. Hatziolos. 2007. Coral Reefs Under Rapid Climate Change and Ocean Acidification. Science 318:1737-1742.
– Veron, J. E. N., O. Hoegh-Guldberg, T. M. Lenton, J. M. Lough, D. O. Obura, P. Pearce-Kelly, C. R. C. Sheppard, M. Spalding, M. G. Stafford-Smith, and A. D. Rogers. 2009. The coral reef crisis: The critical importance of <350 ppm CO2. Marine Pollution Bulletin 58:1428-1436.

Referensi
  • Kenneth R. N. Anthony, Jeffrey A. Maynard, Guillermo Diaz-Pulido, Peter J. Mumby, Paul A. Marshall, Long Cao, Ove Hoegh-Guldberg. Ocean acidification and warming will lower coral reef resilience.Global Change Biology, 2011; DOI: 10.1111/j.1365-2486.2010.02364.x

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya

  • RSS Banten discovery tourism

    • Krakatau tour- volcano active 1883 Agustus 8, 2011
      Filed under: Krakatau Tagged: krakatau
    • New Theme: Tapestry April 18, 2011
      New Theme: Tapestry.Filed under: Bali island, Borneo
    • krakatau tour-4 star service April 3, 2011
      Duration : 3 day 2 night Location : Sunda strait Grade       : Easy Tour itenerary Day 01,Pick up at jakarta air port ,or jakarta city at 07 morning,Direct to carita -tanjung lesung by private car, [ Equipped Ac,reclining seat ] within 3 hrs alon toll road,entering to Cilegon,Anyer ,and carita ,than transfering to Tnjung Lesung […]
    • Sambolo Beach bungalow April 1, 2011
      Sambolo Beach bungalows are furnished with the following items: Indoor living area * Lounge seating for six people with seat and back cushions * Coffee table * Dining table and 6-8 dining chairs with cushions * 3 Bar stools and bar bench top * Side tables with lamps * Ceiling fans Kitchen * Gas stove […]
    • >Indonesia Maret 22, 2011
      > Indonesia archipelago big and small island Indonesia is not just Bali,it its java ,Sumatra,Kalimantan,Sulawesi ,Irian Jaya and other island It is a country of intinite scope and contrast,a land of volcanoes and vast lake,of white tranquile beaches and bustling cities,of age culture and modern hotel.For the visitor ,this emerald archipelago is a wonderla […]
    • >Ijen Crater – Lake east java Maret 22, 2011
      > Welcome to Ijen. Discover the beauty of East Java , with the exploration to Ijen crater , the magnificent colourful sulphur lake which can be reached either from Banyuwangi ( east side ) or from Bondowoso ( west side) Our company, Ijen crater , as the online version of our tour operator company Ijen […]
    • >Bromo tour east java Maret 22, 2011
      >     Bromo Tour Package This province offers tourists many objects of tourist interest. Buddist sanctuaries and Hindu temple comprising many architectural splendor are impressive legacies of past empires including the powerful and extensive Majapahit empires of the late 13th  centuries. Indeed, almost every village, town and city in East Java seems to ha […]
    • >Bali Paradise Island Maret 22, 2011
      > Bali islands – The Island of Paradise Bali islands is one of the thousands islands constructing the Indonesian Archipelago that has long been famous as a leading tourist destination in South Pacific or even in the world for its exotic and vibrant art and culture, natural beauties and the hospitality of the people. Bali […]
    • >Getting Lombok island Maret 22, 2011
      > Geting to Lombok Island Lombok is accessible both by sea and air from most of the nearest domestic entry points such as Bali, Jakarta and Surabaya, and international entry points such as Singapore and Kuala Lumpur. Airport Domestic Departure Tax is Rp. 20.000/person and International Departure Tax is Rp. 75.000/person. Make sure you prepare […]
    • >Rinjani Rim trecking Maret 22, 2011
      > Rinjani Rim Trekking RINJANI RIM TREKKING PROGRAMTour Name    : Rinjani Rim TrekTheme           : Adventure & NatureDuration        : 2D / 1NServices        : Return Transfer, Tent, Sleeping Bed, Porter.This program provides you the shortest duration to explore the magnificent Rinjani. You can enjoy most of the views from the rim, “including two sun […]